MENANAMKAN CINTA KEPADA NABI



Tak kenal maka tak sayang kata pepatah, iyalah gimana mau sayang ...kenal aja enggak. Ngomong-ngomong soal sayang, kalau ditanya siapa sih manusia yang paling kamu sayang dan kamu cintai nomer satu di dunia ini? Kebanyakan orang muslim pasti jawabannya “Muhammad bin Abdullah” (Positif thinking), iya meskipun dia masih belajar untuk memperbaiki diri, atau sadar bahwa dia masih banyak kekurangan dan belum sempurna sebagai muslim, bukankan sah-sah saja jika dia memilih untuk mencintai Muhammad lebih dari kecintaannya kepada manusia manapun didunia ini, termasuk kedua orang tuanya, atau bahkan dirinya sendiri. Apa sih istimewanya mencintai dia? Lantas apa yang harus dilakukan untuk menanamkan kecintaan itu? Sejak kapan?

Dikisahkan dalam buku Seindah Akhlak Nabi karya Amru Khalid. Suatau hari Rasulullah berjalan bersama beberapa sahabat beliau, salah satunya adalah Umar bin Khattab. Rasulullah menggandeng tangan Umar, dan seketika Umar berkata “Demi Allah wahai Rasulullah, sesungguhnya aku benar-benar mencintaimu”, “Melebihi cintamu kepada kedua orang tuamu wahai Umar?” tanya Rasulullah, “Ya” jawab Umar. Rasulullah bertanya lagi “ Melebihi cintamu kepada hartamu wahai Umar?”, Umar menjawab “Ya”. Rasululllah bertanya “Melebih dirimu wahai Umar”, “Tidak” jawab Umar, betapa Umar jujur kapada dirinya sendiri. Seketika Rasulullah pun berkata “Tidak sempurna imanmu wahai Umar samapai engaku mencintaiku melebihi dirimu sendiri”. Kemudian Umar keluar sambil berfikir, setelah itu Umar kembali kepada Rasulullah dan berkata “Demi Allah wahai Rasulullah, aku mencintaimu melebihi diriku sendiri”. Nabi menjawab “Sekarang wahai Umar, sekarang, wahai Umar (baru benar).

Saat Umar menceritakan kejadian itu kapada anak beliau yang bernama Abdullah, Abdullah bertanya” Apa yang menyebabkan engkau berubah wahai ayah?”, Umar menjawab “Saat aku keluar, aku berpikir siapakah orang yang lebih aku butuhkan saat hari kiamat? Rasulullah atau diriku sendiri?, maka aku pun segera menyadari bahwa ketika hari kiamat, aku lebih membutuhkan Rasulullah lebih dari pada diriku sendiri”.

Dari kisah tersebut kita bisa mengambil pelajaran, bahwa wajib hukumnya bagi setiap muslim untuk mencintai Rasulullah melebihi cintanya kepada manusia lain termasuk dirinya sendiri. Hal ini bukan karena rasulullah membutuhkan kita untuk mencintai beliau, tetapi ini adalah adab yang secara langsung sudah dicontohkan oleh olah Allah dalam Al-quran, “Sesungguhnya Allah dan para Malaikat bershalawat kepada Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. (Al-Ahzab:56).

Kisah Umar mengajarkan kepada kita bahwa saat paling genting, yaitu ketika hari kiamat, kita tidak dapat memprediksi apa yang akan terjadi, saat manusia sudah lupa dengan keluarga dan orang-orang yang disayangi ketika di dunia, pada saat itu justru Rasulullah adalah satu-satunya orang yang bisa memberi pertolongan dengan syafaat beliau yang sudah dijamin oleh Allah swt.

Lantas apa yang harus dilakukan jika didalam hati kita masih belum ada rasa cinta kepada Rasulullah, dan bagaimana cara mengajarkan kepada anak? Efektifnya kita mengenalkan Rasulullah kepada anak-anak sejak usia dini melalui kisah-kisah beliau yang sudah banyak diriwayatkan. Kisah tentang keikhlasan beliau yang setiap hari menyuapi pengemis yahudi yang buta di pasar yang mana pengemis tersebut setiap hari menghina dan mencaci Rasulullah didepan orang-oarng disekiatrnya, sampai akhirnya Rasulullah wafat, si pengemis baru mengetahui dari Abu Bakar bahwa orang yang setiap hari menyuapinya dengan lembut adalah orang yangsetiap hari ia hujar, akhirnya si pengemis itupun masuk islam tatkala Rasulullah telah tiada. Kisah ketegaran Rasulullah yang harus meninggalkan kota Makkah yang dia cintai dan berhijrah ke Madinah ditengah kejaran kafir Qurays yang hendak membunuh beliau. Kisah kesabaran beliau saat diusir dan dilempari penduduk Thaif saat berdakwah sendirian sampai beliau berdarah, namun Rasulullah memintakan maaf atas mereka seraya berdoa “Ya Allah ampunilah mereka, karena mereka belum mengerti”. Bahkan saat beliau akan meninggal dunia, yang beliau panggil adalah umat beliau, “Ummati... Ummati”. Maka tak ada kata terlambat, dan memang sudah selayaknya kita mencintai Rasulullah diatas manusia yang lain. Betapa beliau telah menyerahkan seluruh hidup beliau demi tersampainya risalah ini kepada kita. “Sungguh telah datang seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamat) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin”

Allahumma Sholli wasallim ‘ala sayyidina Muhammad wa’ala ‘alihi washohbihi ajma’in                                                                                                                                                                              

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TIPS MEMASAK DAGING YANG EMPUK DAN TIDAK BAU

TK KHAIRUNNAS LEBIH DEKAT